June 30, 2013

About Us



Sejujurnya nama “Cacing Padang Pasir” ini muncul begitu saja dalam benak saya (Hana Hanifah) ketika musyawarah penentuan nama project kelas untuk UAS SPI Kawasan Arab. Pada mulanya nama project ini sudah memiliki nama yang lebih pantas, namun atas beberapa pertimbangan, Cacing Padang Pasir ini menjadi label project ini.
Ya, jadi dengan kata lain nama ini, pada mulanya tak memiliki arti sama sekali. Memang tampak buruk, tapi bukan berarti tak bisa dipilihkan sebuah makna yang bagus. Arti yang menurut saya harus menarik, berkesan dan membuatnya memiliki keunikan tersendiri.
Nama Cacing Padang Pasir sendiri menurut saya sudah memiliki sesuatu yang berbeda dengan nama-nama lainnya, yaitu kita tahu bahwa cacing tak hidup di padang pasir. Dengan begitu semoga saja nama ini mudah diingat semua orang :D. Tapi tetap saja, menurut saya, yang mengajukan nama ini, memiliki tanggung jawab agar nama ini memiliki makna, khususnya bagi saya sendiri dan teman-teman kontributor project bersama dan sekaligus menjaga label kami ini agar tak disalahartikan, misalnya menyamakan dengan mitos cacing Mongolia yang hidup di Gurun Ghobi, di mana cacing itu diyakini sebagai cacing raksasa menyeramkan yang memangsa manusia. Dan saya samasekali tak berniat untuk memilih arti itu.
Cacing, membuat saya teringat tentang beberapa peran penting cacing tanah bagi kesuburan tanah dan hal ini termasuk sangat menentukan bagi kesejahteraan manusia . Struktur  organ cacing yang sederhana membuatnya justru lebih adaptif dengan lingkungan hidupnya. Ketika bergerak mereka menggemburkan sekaligus membuat lubang-lubang sehingga membuat konsentrasi udara dalam tanah meningkat, maka kesuburan tanahpun terjaga dan meningkat. Ke manapun mereka bergerak, udara kesuburan mengikutinya. Tanah yang ditempatinya menjadi sebuah sumber kesuburan dan kehidupan. Maka makna ‘cacing’ di sini adalah kesuburan.  
Jika berpikir dianalogikan dengan cacing mungkin terdengar menjijikkan, tapi mengambil hal yang positif sebagai pelajaran dari sesuatu, baik itu benda mati maupun hidup, bukanlah hal yang salah dan dilarang.
Kemudian terkait padang pasir, ini hanya sebuah simbol atau gambaran, secara geografis, mengenai keTimur-Tengahan. Personally, ketika saya berbicara mengenai Timur-Tengah, entah mengapa, yang pertama kali muncul dalam benak saya adalah padang pasirnya, meskipun tahu bahwa padang pasir tak hanya di Timur-Tengah.
Dari pengertian yang terpisah di atas, makna Cacing Padang Pasir yang saya maksud adalah sebuah oase ilmu, khususnya tentang keTimur-Tengahan, yang semakin menyuburkan kehidupan (pengetahuan) bagi siapa saja dan di mana saja sehingga memperkokoh tiang ilmu pengetahuan. Terakhir, semoga ini menjadi sebuah do’a terbaik bagi kami untuk dapat terus berkarya serta turut berkontribusi dalam kehidupan umat manusia di manapun dan kapanpun.

Selamat menyelami dunia ilmu pengetahuan! ^_^


Bila ada komentar atau saran, bisa langsung dilayangkan ke penulisnya langsung (ada di bawah). Tidak hanya itu, jika ingin paper mengenai timur tengah, juga bisa langsung di layangkan ke penulis-penulis yang anda suka. Kami akan usahakan membantu sumber-sumber untuk paper kalian.

Endi Aulia Garadian : @EndiGaradian
Hanafi Wibowo : @hanafiwibowo
Anto Langgeng Prayoga : @anto_seishin
Ahmad Sehabuddin : @sehab_
Hana Hanifah : @hanahanifaa
Nendi Mulyana : @nendialbantany
Iwan Restandy : @iwanrestandii
Ela Hikmah : @elahikmah
Ahmad Rifa’i : @rifaii092
Ripyal Fachri : @Rifial_da_silva
Rina Syafrianti : @Rina_syafrianti
M. Arif Rahman : @arief_yahman
Sukron Amin : @sukronelfarizy


Sejarah Magrib aqsha ( Maroko)


Sultan Abdurahman di maroko
gambar ini diambil dari http://www.paintinghere.org/painting/the_sultan_of_morocco_and_his_entourage-12573.html

Pendahuluan
Magrib aqsha
Pendahuluan
Penduduk asli Maroko adalah suku Berber. Penjajah pertama yang di kenal adalah bangsa Chartago 146 SM dan bangsa Phoenicians dari Timur Mediterania abad 12 SM. Maroko berada pada kerajaan Romawi pada abad 1 M. Islam masuk pada abad ke 685 M dan kerajaan Maroko pertama yang berdaulat berdiri pada tahun 788 M. Perpecahan bangsa Maroko terjadi pada abad 10 M yang menandai terjadinya kekacauan politik yang kemudian teratasi pada abad 11 M oleh dinasti Berber, Almoravid. Dinasti yang memperluas daerah kekuasaannya dimulai dari Spanyol hingga Senegal. Persatuan nasional maroko di warnai bangsa Berber islam yang turun-temurun.
Pembahasan
Maroko Ameṛṛuk atau Lmaġrib, Prancis: Maroc), resmi Kerajaan Maroko [2] adalah negara yang berada paling barat dari negara-negara Afrika Utara. Dia  Memiliki Atlantik, garis pantai  Mediterania, dan interior pegunungan terjal. Nama Arab al-Mamlakat al-Maghribiyyah yang diterjemahkan menjadi "The Kingdom Barat", dan Al-Maghrib atau Maghreb, yang berarti "The West.
Wilayah Maroko telah dihuni sejak zaman Paleolitik, kurang lebih  sejak 200.000 SM rujukan.  Selama Paleolitik, Maghreb lebih subur daripada sekarang ini, menyerupai sabana lebih dari lanskap kering saat ini[1]. 22.000 tahun yang lalu, Aterian digantikan oleh budaya Iberomaurusian, yang berbagi kesamaan dengan budaya Iberia. Kesamaan Skeletal telah diusulkan antara Iberomaurusian "Mechta-Afalou" penguburan dan Eropa Cro-Magnon tetap. Iberomaurusian tersebut digantikan oleh budaya Beaker di Maroko.
Afrika Utara dan Maroko perlahan-lahan ditarik ke dunia Mediterania muncul lebih luas oleh Fenisia yang mendirikan koloni perdagangan dan pemukiman di periode Klasik awal. Pemukiman Fenisia substansial berada di Chellah, Lixus dan Mogador[2],  dengan Mogador menjadi koloni Fenisia sedini awal abad ke-6 SM. [3]Halaman diperlukan
Maroko kemudian menjadi bagian dari Afrika Utara. Negara Maroko dikenal i adalah Berber kerajaan Mauritania bawah raja Bocchus I. kerajaan ini di Maroko utara, tidak menjadi bingung dengan kondisi sekarang Mauritania, tanggal setidaknya 110 SM.
Islam masuk ke maroko
Islam  pertama kali dibawa ke Maroko pada tahun 680M oleh invasi Arab dibawah Uqba ibn Nafi, seorang jenderal yang melayani Damaskus di bawah Bani Umayyah. Tetapi catatan lain menyebutkan bahwa agama Islam kali pertama dibawa ke Maroko oleh orang Arab yang menyerbu wilayah itu pada tahun 683. Penaklukan wilayah Afrika Utara ini memakan waktu 53 tahun. Tariq bin Ziyad yang diangkat Musa bin Nusair untuk memerintah Maroko setelah ditaklukkan, kemudian menyebrangi selat antara Maroko dan Eropa, dan mendarat di suatu tempat (gunung) yang kemudian dikenal sebagai Jabal Tarig (Gibraltar). Maroko menjadi wilayah penyangga untuk penaklukan Spanyol.
Maroko memang mempunyai peranan besar dalam sejarah Islam, terutama dalam menyebarkan Islam di wilayah Afrika Utara dan sebagai pintu gerbang masuknya Islam ke Spanyol (Andalusia), Eropa. Menara Masjid Kuttubiya di Marrakech diperkirakan di bangun oleh ahli bangunan Sevilla, Guever pada abad ke-12. Ekspansi Islam ke Maroko dimulai ketika negeri itu ditaklukkkan oleh Musa bin Nusair pada al Walid I bin Abdul Malik (705-715), khalifah keenam Dinasti Umayyah.
Segala persiapan ekspansi Islam ke daratan Eropa dilakukan melalui negeri ini. Setelah dinasti Umayyah jatuh ke tangan Dinasti Abbasiyah, Maroko menjadi kekuasaan Bani Abbas. Kemudian di negeri ini muncul dinasti-dinasti kecil. Pada tahun 172 H/789M, Idris I bin Abdullah, salah seorang keturunan Ali RA dapat membentuk pemerintahan Idrisid, yang kemudian bertahan hingga tahun 364 H/974 M. dinasti Syiah yang pertama, sehingga merupakan tantangan bagi Khalifah Harun Ar Rasyid dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang bercorak Suni
Tahun 177 H. Idris I dibunuh oleh Sulaiman As Sammakh dengan racun. Naiklah Idris II yang dianggap pendiri sebenarnya Dinasti Idrisid. Pada masanya, Dinasti ini banyak mencapai kemajuan, terutama di bidang kebudayaan Islam. Ibu kota yang semula di Walila dipindahkan ke Fez. Tahun 213 H. Idris II meninggal.
Semua penggantinya lemah kecuali Yahya bin Muhammad dan Yahya IV. Di tangan Yahya IV, Dinasti Idrisid mencapai masa keemasannya. Tahun 364 H/974 M, Dinasti Fatimah yang berhaluanSyiah Ismailiyah merebut kekuasaan dari Yahya IV. Keberadaan masyarakat Maroko yang berhaluan Syiah meski bukan Syiah Ismailiyah, memudahkan jalan bagi Abdullah asy-Syi’i untuk mendirikan dinasti tersebut, dinasti yang menisbahkan namanya kepada cucu Nabi SAW.
Dinasti ini berkuasa sampai 1171 M. selama kekuasaannya, terdapat 14 orang imam yang memimpin Negara ini, diantaranya imam pertama Ubaidullah al Mahdi (909-934) dan Imam terakhir al Adid (1160-1171). Selanjutnya Maroko dikuasai oleh Dinasti al Murabitun dengan ibu kotanya Marrakus. Kekuasaannya meliputi seluruh Gurun Sahara, Afrika Barat Laut dan Spanyol. Kendati demikian, dinasti ini tetap mengakui kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad dan mendapat pengesahan gelar Amilir al Muslimin







[1] Rubella, D. (1984). "Environmentalism and Pi Paleolithic economies in the Maghreb (c. 20,000 to 5000 B.P.)". In J.D. Clark & S.A. Brandt. From hunters to farmers the causes and consequences of food production in Africa. Berkeley: University of California Press. pp. 41–56.
[3] Moscati, Sabatino (2001) The Phoenicians, Tauris

Koleksi Babilonia dalam British Museum



 Oleh:

Endi Aulia Garadian

Pendahuluan

British Museum, merupakan museum nasional yang terletak di London, Inggris dan berdiri sejak tahun 1753.[1]  Adalah Sir Hans Sloane, seorang antikuariat yang koleksinya mencapai 71.000 kala itu. Karena tidak ingin peninggalannya sia-sia begitu saja, sebelum meninggal ia memberikan barang-barang antiknya kepada Raja George II, dengan totalnya berjumlah £20,000.
Bak gayung bersambut, ternyata Raja George II pun peduli terhadap benda-benda peninggalan Sir Hans Sloane. Ia pun berinisiatif mendirikan British Museum  dan  pada perkembangan selanjutnya, banyak raja maupun ratu yang memperluas area museum dengan menambahkan beberapa bangunan. British Museum adalah jenis museum yang baru dan berbeda kala itu – tidak seperti milik gereja atau raja – museum ini bebas dimasuki oleh kalangan masyarakat umum..[2]
British Museum juga memiliki beberapa departemen  seperti Departemen Ancient Egypt and Sudan, Greece and Rome, Middle East,  Prehistory, Europe, Asia, Arsip dan Perpustakaan serta beberapa departemen lainnya. Koleksi untuk saat ini, mencapai 8 juta koleksi. Koleksi yang tertua di museum ini sudah mencapai umur kurang lebih 2 juta tahun. Dengan luas area yang mencapai 75.000 m2, mengacu data 2008/2009 pengunjung museum ini sebanyak 5,93 juta pengunjung.[3]
Sekarang, manajemen museum dipimpin oleh Neil MacGregor. Banyak pula fitur yang ditawarkan oleh manajemen British Museum, salah satunya fitur “Online Tours”. Bagi kita yang belum sempat datang ke sana, fitur ini lumayan cukup menghilangkan dahaga rasa penasaran. Walaupun adrenalin yang dirasakan berbeda ketika kita datang langsung ke museum, namun hal ini bisa memberikan gambaran yang cukup bila sekedar ingin mengetahui selayang pandang tentang British Museum.
Laporan kali ini, penulis  akan menggambarkan koleksi apa saja yang terdapat di British Museum terkait tema “Mesopotamia, Babylonia dan New-Babylon”. Peninggalan peradaban bangsa tersebut, dapat dilihat dengan menggunakan fitur Online Tours di bagian Department of Middle East. Berikut ini beberapa koleksi yang penulis cantumkan, semoga pembaca merasakan apa yang penulis rasakan.



 

Proses Peradaban Irak Kuno

 

Koleksi Babylon

Gambar 1. Stone Prism of Essarhaddon (680-669 BC). Dimensi (Tinggi 8,5 inchi)
Batu prisma di atas mencatat perbaikan tembok dan kuil-kuil di kota Babylonia oleh Raja Esarhaddon (680-669 SM). Cuneiform ditulis dalam tulisan kuno mesopotamia. Bagian atas batu ditutupi dengan simbol para dewa.
Babylonia telah dihancurkan pada 689 SM oleh Easarhaddon ayah Sanherib (704-681 SM) dan Patung Marduk, dewa tertinggi Babylonia, dipindahkan ke Asyur. Festival-festival perayaan terhadap dewa-dewa sontak terhenti ketika patung ini diambil.
Meskipun Sanherib mengklaim telah menghancurkan seluruh kota dan mengubahnya menjadi padang rumput, namun hal tersebut terlalu berlebihan. Namun, meskipun ia sempat melakukan hal yang salah, ia pun mulai memugar bangunan-bangunan menjelang akhir pemerintahannya. Dan pada pemerintahan Ashurbanipal (669-631 SM) anak dari Essarhaddon telah mengembalikan patung Marduk ke tempatnya semula.
Gambar 2. Stela of Ashurbanipal (669-655 BC). Dimensi (Tinggi 37 cm; Lebar 22 cm; Tebal 10 cm)
Raja membawa keranjang di kepalanya
Kota Babylonia telah dihancurkan oleh Sanherib raja Asyur pada 689 SM tapi dibangun kembali oleh putranya Esarhaddon (memerintah 680-669 SM) dan cucunya Ashurbanipal (memerintah 669-631 SM). Salah satu tugas dari seorang raja Mesopotamia adalah untuk merawat para dewa dan memulihkan atau membangun kembali kuil mereka. Jauh sebelumnya, pada akhir milenium ketiga SM, penguasa di selatan Mesopotamia digambarkan sendiri melaksanakan tugas ini. Misalnya seperti sosok Ur-Nammu (2112-2095 SM).
Ada kemungkinan bahwa patung-patung serupa ditemukan di reruntuhan Babylonia selama pekerjaan pembangunan kembali pada masa Ashurbanipal. Dalam prasasti di atas – Tugu Ashurbanipal sang raja mengenakan gaun kepala-raja Asyur yang sedang mengangkat sebuah keranjang besar.
Gambar 3.
Cuneiform Tablet with Observations of Venus (Abad ke 7 SM). Dimensi (Panjang 17,140 cm; Lebar 9,2cm; Tebal 2,22 cm)

Copy teks Babilonia 1000 tahun sebelumnya
Berkat catatan Asyur, kronologi Mesopotamia relative menjadi lebih jelas pada kisaran tahun 1200 SM. Tablet ini merupakan salah satu peninggalan paling penting (dan kontroversial) untuk merekonstruksi kronologi Mesopotamia sebelum sekitar tahun 1400 SM. Naskah tablet di atas adalah salinan, dibuat di Niniwe pada abad ketujuh SM dan teradapat pengamatan planet Venus yang dibuat pada masa pemerintahan Ammisaduqa, raja Babylonia, sekitar 1000 tahun yang lalu.
Gambar 4. Cuneiform Tablet Telling the Epic of Creation (Abad ke 7 SM). Dimensi (Panjang 21 cm; Lebar 6,2 cm; Tebal 2,5 cm)
Bagian dari perpustakaan Raja Ashurbanipal (669-631 SM)

Cuneiform ini adalah salah satu dari serangkaian cuneiform yang menceritakan kisah penciptaan. Dikisahkan dalam cuneiform ini, pertarungan para dewa, antara Tiamat dan Marduk. Tiamat mengerahkan banyak tentara setan dan monster. Akan tetapi, tentara Tiamat dapat dikalahkan dan Tiamat pun dibunuh. Dari tubuh Tiamat dan raksasa yang telah dikalahkan, Marduk menciptakan langit dan bumi. Serta manusia pun diciptakan untuk melayani para dewa. Epic tersebut dibacakan pada hari keempat dari Festival Tahun Baru di Babylonia, yang berlangsung pada bulan April. Cerita ini diperkirakan muncul pada millennium kedua SM.

Gambar 5. Boundary Stone (Kudurru) 978-943 BC. Dimensi (Panjang 26 cm; Lebar 20 cm; Tinggi 50 cm)
Sebuah pernyataan hukum tentang kepemilikan tanah

Kudurru ini mencatat penyelesaian hukum
, di mana ada persengketaan sebuah perkebunan di kota Sha-mamitu yang dulunya milik Arad-Sibitti dan keluarganya, tetapi karena terjadi pernikahan dengan keluarga Burusha terjadilah beberapa masalah. Menurut cuneiform di atas, selama beberapa tahun sebelumnya telah terjadi gesekan antara dua keluarga dan saling memprebutkan tanah tersebut. Teks di atas merupakan jejak sejarah perseteruan antara keluarga yang diselesaikan dengan hukum. Biasanya, teks berakhir dengan kutukan kepada siapapun yang akan menghancurkan atau mencuri batu. Sembilan belas simbol ilahi melindungi dokumen sementara individu yang ditampilkan diberi nama sebagai raja Babylonia, Nabu-mukin-apli (978-943 SM), menghadapi Arad-Sibitti dan adiknya.

Gambar 6. Cyrus Cylinder (539-530 SM ). Dimensi (Panjang 26,5 cm)
A Declaration of Good Kingship
Silinder di atas merupakan catatan yang diperoleh Cyrus, raja Persia (559-530 SM) dari penaklukan Babylonia pada tahun 539 SM dan penangkapan Nabonidus, raja terakhir Babylonia. Pencapaian yang digapai Cyrus ia klaim atas bantuan Marduk, dewa Babylonia. Silinder ini kadang-kadang digambarkan sebagai 'piagam pertama hak asasi manusia', tetapi sebenarnya mencerminkan tradisi panjang di Mesopotamia,  karena dari sejak milenium ketiga SM, raja-raja Babylonia sudah memerintah dengan deklarasi reformasi.
Gambar 7. Babylonian Brick (abad ke-8-7 SM). Dimensi (Panjang 7,4 inchi; Lebar 4,9 inchi)

Babylonian Brick merupakan salah satu dari sejumlah barang yang dikumpulkan oleh Sir Robert Ker Porter (1777-1842), seorang seniman Skotlandia, wisatawan dan diplomat. Ker Porter mempersembahkan koleksi kecil yang ia kumpulkan selama perjalanan ke British Museum pada tahun 1821. Babylonian Brick adalah sebagian besar sisa-sisa bangunan kuno Babylonia: batu bata, mortar, aspal dan alang-alang. Bata ini awalnya sepanjang 30 cm, tapi Ker Porter memotongnya supaya lebih mudah dibawa.
Gambar 8. Boundary Stone (Kudurru) 1186-1172 bc. Dimensi (Panjang 51 cm; Lebar 24 cm)
Karunia lahan pertanian seorang pejabat senior Babylonia
Teks tulisan kuno di atas mencatat hadiah dari kerajaan (akta tanah), sebidang lahan pertanian seluas (50 gur)[4] oleh Meli-Shipak (1186-1172 SM), seorang raja dari dinasti Kassite Babylonia, untuk Khasardu, putra Sume. Tanah itu terletak di tepi Canal Royal. Akta tersebut telah disusun di hadapan tujuh pejabat tinggi yang tercantum dalam cuneiform di atas. Batu itu diberi nama: 'O Adad [badai dewa], tuan perkasa, memberikan karunia berlimpah'. Tentu saja, diakhir cuneiform jenis ini, ditutup dengan kutukan terhadap siapapun yang mengabaikan isi hukum atau yang mengakibatkan kerusakan batu. Perlindungan lebih lanjut diberikan oleh tiga belas dewa yang dipanggil untuk menjaga dokumen. Selain itu, delapan belas simbol ilahi yang diukir pada bagian atas kudurru. Sesosok makhluk mite dengan kaki memutar dan berkepala dua, centaur bersayap dua sisi, prekursor Sagitarius, memegang busur.
Gambar 9.  Boundary Stone (Kudurru) 1125-1104 bc. Dimensi (Panjang 64 cm; Lebar 18 cm)
Sebuah pernyataan resmi tentang pembebasan pajak dan kewajiban

Teks paku pada kudurru di atas menjelaskan pengabdian militer Ritti-Marduk kepada Raja Nebukadnezar I (1125-1104 SM) selama kampanye di Elam (dari selatan sampai timur Mesopotamia) sebagai pembalasan atas serangan elamite di Babylonia utara. Kampanye dilakukan di musim panas dan banyak tentara Babylonia yang menderita karena jauhnya perjalanan, panasnya cuaca dan kekurangan air. Ritti-Marduk, Kapten kampanye, memimpin serangan terhadap Elamite. Teks di atas menjelaskan rincian tentang bagaimana Nebukadnezar menghargai pengabdian Ritti-Marduk dengan membebaskan kota-kota Bit-Karziyabku, di mana Ritti-Marduk adalah penguasa, dari yurisdiksi kota tersebut. Imbalan yang diberikan Nebukadnezar yaitu memberikan penduduk kebebasan dari segala pajak dan dari kerja paksa.

Gambar 10. Stone Tablet of Nabu-apla-iddina (Sekitar 870 BC). Dimensi (Panjang 17,5 cm; Lebar 10,6 cm; Lebar 3,5 cm)
Pemulihan beberapa lahan
Tablet batu ini adalah salinan akta pencatatan pemulihan tanah oleh raja Babylonia Nabu-apla-iddina ke seorang imam. Gambar di bagian atas prasasti adalah 13 simbol dari dewa yang dirancang untuk melindungi pernyataan hukum. Kedua raja, mengenakan topi khas kerajaan Babylonia, dan imam, yang mengangkat tangan menandakan penghormatan. Teks tersebut disahkan dengan stempel kerajaan saat itu dihadapan lima petinggi dewan kerajaan.
Abad kesembilan SM ditandai dengan pemulihan lahan, setelah mereka diserang oleh orang Aram. Kota-kota Uruk dan Nippur dirusak, dan kuil-kuil dari Sippar dihancurkan dan mengakibatkan aktivitas penyembahan berhenti. Garis raja di atas takhta Babylonia sekarang relatif stabil dan Nabu-apla-iddina mampu mengembalikan citra ilahi Shamash ke Kuil-Nya di Sippar. Untuk menambah kondisi damai perjanjian dengan kerajaan utara Asyur telah disusun pada 891 SM, pernikahan politis dinasti antara dua keluarga kerajaan.
Gambar 11. Tablet of Shamash (Awal abad 9 SM). Dimensi (Panjang 29,210 cm; Lebar 17,780 cm
Pemulihan gambar dewa Matahari dan Candi
Tablet batu ini menunjukkan Shamash, dewa matahari, duduk di bawah tenda sedang memegang tongkat dan cincin, simbol otoritas ilahi. Simbol-simbol dari Matahari, Bulan dan Venus berada di atasnya, serta dengan simbol matahari besar didukung oleh dua petugas ilahi. Teks di Cuneiform menggambarkan bagaimana Kuil Shamash di Sippar telah diruntuhkan dan gambar dewa telah dihancurkan. Selama masa pemerintahan Nabu-apla-iddina, bagaimanapun, model terakota patung itu ditemukan di sisi jauh dari Efrat dan raja memerintahkan gambar baru dibangun dari emas dan dilapis lazuli.
Tablet ini ditemukan sekitar 250 tahun kemudian oleh Raja Nabopolassar (625-605 SM), yang ditempatkan untuk menjaga keamanan, bersama dengan catatan namanya sendiri, di kotak tembikar. Kesan panel tanah liat berukir ditempatkan sebagai pelindung permukaan batu. Tablet yang asli ditempatkan oleh Nabu-apla-iddina sudah rusak ketika ditemukan oleh Nabopolassar. Dia menggantinya dengan yang baru sekaligus mempertahankan yang asli dan diamankan dalam kotak tablet.
Gambar 12. Decorative Roundel with a bearded face (sekitar 1350-1200 SM). Dimensi (Diameter 9,8 cm; Tebal 1,5 cm)
Jejak perak dan emas pada roundel untuk menghias sabuk, pakaian atau baju zirah kuda
Sebuah roundel dekoratif, dengan wajah berjenggot frontal, mungkin ketika itu digunakan untuk ornamen pada pakaian atau sebagai perlengkapan pada kuda. Terbuat dari aspal yang dilapisi dengan tembaga. Penggunaan aspal sebagai bahan inti menunjukkan roundel ini diproduksi di Susiana, di mana ada rembesan aspal substansial dan tradisi panjang penggunaannya dalam pembuatan patung. Benda serupa telah digali di daerah ini di Susa dan Haft Tepe.
Gambar 13. Hematite Cylinder Seal (1800 SM). Dimensi (Panjang 2,45 cm; Diameter 1,4 cm)
Desain dari cylinder seal menunjukkan adegan tempur yang khas dari periode ini dan kembali ke prototipe dari pertengahan milenium ketiga SM. Pada pertengahan abad kesembilan belas SM, Sippar setidaknya memiliki satu lokakarya yang memproduksi segel yang ceritanya menggabungkan adegan pertempuran dengan dewa, dan kemudian Sippar juga sudah menghasilkan beberapa Seal Old Babylonia terbaik. Dari gaya dan bentuk cylinder seal ini, menunjukkan bahwa mungkin dibuat pada masa pemerintahan Raja Sin-muballit (sekitar 1812-1793 SM).
Dua tokoh laki-laki yang akan ditampilkan melawan minotaur dan singa yang terbalik. Ada juga sosok besar dewi prajurit dengan kakinya di singa dan senjata meningkat dari bahunya. Dia mungkin Ishtar, dewi seksualitas dan perang, dan salah satu dewa penting Mesopotamia. Ada banyak juga 'pengisi' motif, yang maknanya belum jelas.
Gambar 14. Lapis lazuli cylinder seal of Sin-ishmeanni (Abad 19 SM). Dimensi (Tinggi 2,45 cm; Diamater 1,45 cm)
Desain pada segel lapis lazuli ini produk khas dari old Babylonia, pemilik segel terlihat sedang dibawa ke hadapan raja dengan seorang dewi dikenal sebagai lamma. Raja duduk memakai kepala-gaun dari dewa. Dari akhir milenium ketiga SM sampai waktu segel ini banyak penguasa dari selatan Mesopotamia yang didewakan. Pada waktu yang lain tampaknya bahwa raja Mesopotamia dianggap diangkat oleh para dewa. Orang kecil dengan kaki busur merupakan motif umum pada segel periode ini. Ia memiliki berbagai cara yang ditafsirkan sebagai penari dalam ritual atau hiburan, atau sebagai jenis setan, mungkin iseng atau semangat pelindung. Angka tersebut mungkin terkait dengan dewa Mesir Bes, yang dipuja di Suriah dan daerah lain di Timur Dekat kuno.
Gambar 15. Letter from Burnaburiash to Amenhotep IV (1359-1333 BC)
Surat dari Burnaburiash Amenhotep IV
Hubungan diplomatik antara Meopotamia dan Mesir
Tablet tanah liat ini merupakan bagian dari salah satu koleksi dari 382 dokumen tulisan paku  yang ditemukan pada tahun 1887 di Mesir, di lokasi Tell el-Amarna. Tanggal pertama sekitar tahun 30 pemerintahan Amenhotep III (1390-1352 SM), dan yang terakhir selambat-lambatnya tahun pertama pemerintahan Tutankhamun (1336-1327 SM).Tanggal tersebut mengacu kepada pemerintahan Amenhotep IV (Akhenaten) (1352-1336 SM), seorang firaun sesat yang mendirikan ibukota baru di Tell el-Amarna.
Banyak surat-surat yang ditulis oleh pangeran Kanaan untuk tuan mereka, raja Mesir. Bagaimanapun, hal ini merupakan salah satu dari beberapa surat yang dikirim ke raja oleh penguasa besar lainnya Dekat kekuatan Timur - Het, Mittanian dan Babilonia.
Hal ini ditujukan kepada Amenhotep IV dari Burnaburrias, seorang raja dari dinasti Kassite Babylonia. Surat ini ditulis dalam bahasa Mesopotamia Akkadia, bahasa diplomatik periode tersebut. Burnaburrias menyebut firaun 'saudara' nya. Burnaburrias mengeluh bahwa Amenhotep IV tidak mengirim hadiah berharga seperti kepadanya saat ia dikirim ke ayahnya Kurigalzu. Dia mengacu pada hubungan persahabatan lama antara rumah-rumah kerajaan Mesir dan Babilonia. Dia juga mengingatkan Amenhotep bagaimana Kurigalzu menolak untuk bergabung dengan Kanaan dalam aliansi melawan Mesir. Burnaburrias kemudian bertanya mengapa orang Asyur telah diizinkan untuk datang ke Mesir sejak ia mengklaim mereka adalah bawahannya. Akhirnya ia mengumumkan pengiriman hadiah dari lapis lazuli dan kuda.
Gambar 16. Fragment of a stone stele dedicated by Itur-Ashdum (1760-1750 SM). Dimensi (Tinggi 45 cm; Lebar 40,640 cm; Tebal 5,080 cm)
Raja Hammurabi
Cuneiform di atas menyatakan bahwa seorang pejabat tinggi yang disebut itur-Ashdum mendedikasikan patung lamma kepada dewi Ashratum di pelipisnya atas nama Raja Hammurabi (1792-1750 SM). Sosok yang diukir di sebelah kiri prasasti dapat mewakili Hammurabi dengan tangan kanannya diangkat ketika sedang ibadah. Menurut teks di atas, Hammurabi akan menghadapi sosok Ashratum di prasasti.
Hammurabi adalah penguasa kerajaan Babylonia. Pada tahun kedua puluh sembilan SM, ia memulai serangkaian kampanye militer yang menyebabkan ia mengambil kontrol atas semua bagian  Mesopotamia selatan dan utara bahkan memperluas daerahnya sampai ke Niniwe di Sungai Tigris, dan Mari di Efrat tengah.

Koleksi Neo Babylon

                                                Gambar 17. Cylinder of Nebukadnezar
Cuneiform ini ditemukan direruntuhan kota Babylonia. Cuneiform di atas menjelaskan tiga istana yang telah dibangun oleh Nebukadnezar (604-562 SM) yang dibangun untuk dirinya sendiri. Istana pertama adalah membangun kembali istana yang pernah dibuat oleh Ayahnya Nebolopassar. Kemudian istana keduanya, dibangun karena merasa istana peninggalan ayahnya tidak cukup besar baginya. Istana keduanya di bangun di tepi utara babilon serta memiliki tembok pembatas biru dan dikelilingin oleh tembok yang besar. Lalu, istana ketiganya terletak di pinggir sungai Eufrat.  Semua tiga istananya dibangun dari batu bata  lalu  atap dan pintu terbuat dari kayu halus impor, cedar dan cemara. Silinder jenis ini dikuburkan di sudut-sudut semua bangunan besar oleh Nebukadnezar dan penerusnya. Hal ini dimaksudkan sebagai wasiat kepada raja-raja penerus, bahwa bangunan-bangunan peninggalan harus selalu diperbaiki.
Gambar 18.
The East Indian House Inscription (604-562 SM). Dimensi (Panjang 56,510 cm; Lebar 50,160 cm; Tebal 9,520 cm)

Ketaatan beragama dan bangunan karya Nebukadnezar II
Setelah jatuhnya Niniwe tahun 612 SM oleh tentara Babilonia, Kekaisaran Neo-Babilonia akhirnya berhasil membentangkan wilayahnya dari perbatasan Mesir sampai ke Teluk. Dinasti Neo-Babylonia didirikan oleh Nabopolassar (625-605 SM), tetapi yang bertanggung jawab atas ekspansi besar-besaran saat itu ialah Nebukadnezar II (604-562 SM). Dia juga membangun kembali ibu kota dalam skala besar untuk memuliakan pemerintahannya dan dewa tertinggi Babylonia, Marduk. Dia membangun kembali candi besar yang disebut Esagila dan Ezida, bersama dengan berbagai kuil yang lebih kecil bahkan dia juga membuat tembok kota dan istana kerajaan di Babylonia.
Bahan utama bangunan adalah bata berbahan lumpur, dan batu bata panggang, beberapa di antaranya mengkilap. Telah diperkirakan bahwa 15 juta batu bata panggang yang digunakan dalam konstruksi bangunan resmi. Sekarang, bekas-bekas Babylonia telah menghilang, kecuali untuk beberapa sisa-sisa yang mencakup beberapa hektar 850 (2100 hektar). Kota ini diperkirakan dua kali lebih besar dari ukuran itu. Diberi nama East Indian House Inscription, karena prasasti ini di bawa oleh company tersebut.
Gambar 19. Clay tablet with cuneiform inscription
Sebuah prasasti berbentuk tablet, yang diduga berasal dari zaman Babylonia baru di era pemerintahan Nebukadnezar II. Kondisi tablet ini masih cukup baik meskipun sudah berumur sangat lama.

Gambar 20. Clay tablet, complete, loan of silver, 1st year of Nabonidus, 19 lines of inscription, Late Babylonian. Dated at Babylon. Dimensi (Panjang 3,49 cm; Lebar 4,44 cm)
Gambar 21. Tablet Recording a Gold Delivery (594 SM). Dimensi (5,4cm x 3,5 cm)
Gambar 22. Fired clay cylinder; historical inscription of Nebuchadnezzar II; building work at Babylon, Borsippa and Kutha (604-562 SM). Dimensi (Tinggi: 31,1 cm ; Diameter: 7,3 cm)
Gambar 23.  Fired clay cylinder; historical inscription of Nabopolassar about the building of Imgur-Enlil at Babylon (625-605 SM). Dimensi (Tinggi: 6,3 cm ; Diameter: 3,65 cm)
Berasal dari era Nebolopassar, pada zaman Babylonia Baru. Cuneiform ini dituliskan dalam bahasa Akkadia dan memiliki 21 satu garis.
Gambar 24. Tugu Nabonidus (555-539 SM). Dimensi (Tinggi 58 cm; Lebar 46 cm; Tebal 25 cm)
Raja terakhir dari Kekaisaran Neo-Babilonia
Tidak diketahui secara pasti dari mana basalt[5] didapatkan untuk membuat stela (tugu), tetapi diperkirakan produk ini berasal dari Babylonia. Orang yang terdapat pada stela tersebut menunjukkan bahwa dia merupakan Raja Nabonidus. Dia memakai pakaian tradisional seorang raja Babylonia, dan sedang dalam posisi yang biasa dilakukan selama upacara keagamaan. Di atasnya adalah simbol ilahi dewa bulan, Sin, (paling dekat dengan dia), planet Venus Ishtar dan cakram bersayap dewa matahari Shamash. Biasanya upacara ini dilakukan setelah masa kemarau telah lewat.
Gambar 25. Brick of Nebuchadnezar II (604-561 SM). Dimensi (Panjang 32,5 cm; Lebar 32 cm)
Setelah kekalahan Kekaisaran Asyur oleh Babilonia kisaran tahun 614-609 SM, Nebukadnezar II membangun kembali kota Babylonia dalam skala besar. Diperkirakan bahwa ada 15 juta batu bata yang digunakan dalam konstruksi bangunan resmi. Prasasti yang ditemukan pada batu bata ini diterjemahkan: 'Nebukadnezar, raja Babylonia, yang peduli pada Esagila dan Ezida, putra sulung Nabopolassar, raja Babylonia'. Esagila adalah Kuil tertinggi dewa Marduk di Babylonia, sedangkan Ezida adalah kuil Nabu, dewa menulis, di kota tetangga Borsippa. Nebukadnezar juga membangun Gerbang Ishtar di bagian 'utara' istana. Dia juga membangun kembali ziggurat (menara kuil) yang disebut Entemenanki.

Babylonia juga digambarkan oleh sejarawan Yunani Herodotus (sekitar 485-425 SM). Ditulis olehnya peradaban taman gantung yang terkenal, walaupun masih belum ditemukan fisiknya. Akan tetapi, peradaban panjangnya masih tertera dalam beberapa cuneiform peninggalan Babylonia.
Gambar 26. Bronze Door-Slab (604-562 SM). Dimensi (Panjang 164 cm; Lebar 53 cm; Tinggi 9,5 cm)
Gambar di atas merupakan lempengan pintu yang berasal dari bagian bawah Kuil Ezida di Borsippa, bagian dari bangunan karya raja Babylonia Nebukadnezar II (604-562 SM). Bercorak karpet dihiasi dengan mawar.
Teks dalam lempengan itu berbunyi: 'Nebukadnezar, raja Babylonia, pelindung Esagila dan Ezida, putra sulung Nabopolassar, raja Babylon. Teks ditulis dalam bentuk cuneiform kuno untuk menandakan kewenangan yang lebih besar. Bagian dari prasasti yang ditemukan, kebanyakan terbuat dari batu bata pada era Nebukadnezar.
Gambar 27. Cylinder of Nabonidus (555-540 SM). Dimensi (Tinggi 22,860 cm; Lebar 9,2 cm)
Cuneiform silinder di atas ditemukan di Kuil Shamash di Sippar. Merupakan catatan rekonstruksi saleh oleh Nabonidus (555-539 SM) dari kuil-kuil Sin dewa bulan di Harran dan dewa matahari Shamash dan dewi Anunitum di Sippar. Dia memberitahu kita bahwa selama bekerja di Sippar, prasasti raja tua Naram-Sin (2254-2218 SM) dan Shagaraki-shuriash (1245-1233 SM) telah ditemukan, dan Nabonidus menawarkan tanggal yang jauh melebih-lebihkan usia mereka.
Nabonidus meneruskan kekuasaan Nebukadnezar setelah melakukan kudeta terhadap Nebukadnezar, meskipun ia tidak memiliki hubungan keluarga langsung dengan keluarga kerajaan Babilonia. Dia cukup tua untuk memiliki anak dewasa (Bel-shar-usur, Belshezzar dalam alkitab) dan dia merupakan seorang tentara yang berpengalaman.
Nabonidus juga banyak membuat silindernya, dengan maksud melegitimasi kekuasaannya bahkan sampai merekonstruksi beberapa silinder sebelumnya agar ia terlihat sebagai penerus kekuasaan yang sah, yang diberikan oleh dewa Marduk.
Gambar 28.
Cuneiform tablet with part of the Babylonian Chronicle (605-594 BC). Dimensi (Panjang 8,25 cm; Lebar 6,190 cm)

Kampanye Nebukadnezar II di barat
Tablet ini merupakan salah satu dari serangkaian yang merangkum peristiwa pokok setiap tahun dari 747 SM sampai 280 SM setidaknya. Setiap entri dipisahkan oleh garis horizontal dan dimulai dengan referensi ke tahun pemerintahan raja tersebut.
Menyusul kekalahan Asyur (seperti yang dijelaskan dalam Chronicle untuk 616-609 SM), Mesir menjadi ancaman terbesar terhadap Babylonia. Di tahun 605 SM Nebukadnezar, putra mahkota Babylonia, menggantikan ayahnya Nabopolassar sebagai komandan dan memimpin tentara sungai Efrat ke kota Charchemish. Di sana ia mengalahkan Mesir. Tak lama setelah itu Nabopolassar meninggal dan Nebukadnezar kembali ke Babylonia untuk dinobatkan. Selama beberapa tahun berikutnya ia terus memperluas kekuasaan.
Gambar 29.
Cuneiform tablet with part of the Babylonian Chronicle (619-609 BC). Dimensi (Panjang 13,.65 cm; Lebar 7,14 cm)

Jatuhnya Niniwe, ibukota Kekaisaran Asyur
Tablet ini merupakan salah satu dari serangkaian yang merangkum peristiwa pokok setiap tahun dari 747 SM sampai 280 SM setidaknya. Setiap entri dipisahkan oleh garis horizontal dan dimulai dengan referensi ke tahun pemerintahan raja tersebut.
Pada musim semi 616 SM, Raja Babylonia Nabopolassar (625-605 SM) memimpin pasukannya ke sungai Efrat (bagian dari Kekaisaran Asyur). Pada 614 orang Madai dari Iran mengepung kota Ashur. Teks di cuneiform mengatakan bahwa tentara Babylonia berbaris untuk membantu Media tetapi tidak mencapai medan perang sampai setelah kota itu jatuh. Nabopolassar bertemu Cyaxares, raja Media, dan perjanjian itu dibuat
Teks Chronicle dirusak pada tahun 612 SM, tetapi Media bergabung dengan pasukan Babilonia dan mengepung Niniwe antara bulan Juni dan Agustus. Akhirnya kota itu jatuh dan dijarah, meskipun beberapa Asyur melarikan diri ke arah barat. Sebuah baru raja Asyur, Ashur-uballit II rally pasukannya di kota Harran. Tahun berikutnya Babylonia dijarah wilayah Harran. Dalam 610/9 Ashur-uballit dan Mesir yang datang membantunya menarik barat Sungai Eufrat dan Napopolassar dipecat Harran. Bangsa Asyur dan Mesir berusaha untuk merebut kembali wilayah tersebut, tetapi pengepungan mereka gagal. Dari titik ini bangsa Asyur dan raja mereka hilang dari sejarah.
Gambar 30 .
Cuneiform tablet with part of the Babylonian Chronicle (556-530 BC). Dimensi (Panjang 13,97 cm; Lebar 14,6 cm)

Jatuhnya dinasti

Tablet ini merupakan bagian dari seri
yang merangkum peristiwa pokok setiap tahun dari aksesi Nabonidus di 556 sampai 530-an SM. Tablet tersebut menekankan bahwa Nabonidus tidak hadir di Saudi untuk banyak pemerintahannya, sehingga mengganggu kinerja festival musim semi tahunan di Babylonia di mana keberadaan raja itu penting.

Nabonidus mendirikan basis di oasis Teima pada rute kafilah dan berkampanye melawan oasis kaya
Arab. Raja menghabiskan sepuluh tahun di Saudi dan Babilonia sebelah kiri dikelola oleh putranya, Bel-shar-usur (Belsyazar dari Perjanjian Lama).

Sementara itu, Cyrus, raja Anshan dan Persia di selatan-barat Iran, mengalahkan raja Astyges Media (Iran barat). Hal ini
memeprluas wilayah Cyrus dari Iran timur sampai Sungai Halys di Anatolia. Croesus, raja Lydia, merasa terancam dan bertemu tentara Persia dalam pertempuran di 547 SM.. Orang Babylonia bersekutu dengan Lydia dan akhirnya pada bulan September / Oktober 539 SM Persia dan tentara Babylonia bertemu di Opis, timur Sungai Tigris. Cyrus menang, kota-kota Sippar dan Babylonia menyerah, Nabonidus ditangkap, dan raja Persia memasuki Babylonia sebagai penguasa baru.

Kesimpulan

Demikianlah, hasil penjelajahan museum yang penulis dapatkan untuk tema “Mesopotamia, Babylonia dan New-Babylon”. Kesimpulan penulis terkait peradaban ini, mereka sudah mengenal budaya tulis dengan baik. Hal itu terlihat dari banyaknya cuneiform yang ditemukan. Ditambah, beberapa teks dari cuneiform tersebut mencantumkan tahun, tanggal dan bulan bahkan adapula dalam penulisan cuneiform sudah memerhatikan kronologis waktu. Hal ini memudahkan generasi selanjutnya untuk menulis peradaban yang pernah ditinggalkan oleh para pendahulu. Selain itu, tulisan-tulisan yang terdapat dalam prasasti biasanya merupakan bentuk legitimasi raja atas hasil karyanya. Dan kebanyakan, isi teks tersebut bertuliskan legitimasi Nebukadnezar II.
Paganisme juga menjadi agama utama bagi orang-orang Mesopotamia. Di mana dewa yang digambarkan sebagai dewa matahari, menjadi dewa agung tertinggi. Tidak hanya di Mesopotamia, hampir di setiap wilayah yang menganut kepercayaan lama (baca: Paganisme) matahari menjadi mahadewa. Bahkan, kaisar dilambangkan sebagai utusan Tuhan di bumi untuk memimpin suatu wilayah.
Perebutan wilayah kekuasaan juga terjadi di wilayah ini kala itu, hubungan diplomatis, perdagangan bahkan hukum sudah ada di dalam peradaban Mesopotamia. Hal ini menandakan bahwa peradaban Mesopotamia bukanlah beradaban yang ‘ecek-ecek’, namun sebuah peradaban besar yang mendahului zamannya.


[1] http://www.britishmuseum.org/about_us/management/about_us.aspx (diakses  11 April 2013)
[2] http://www.bmimages.com/preview.asp?image=00032676001&imagex=90&searchnum=0001 (diakses  11 April 2013)
[3] http://www.britishmuseum.org/about_us/management/about_us.aspx (diakses 11 April 2013)
[4] Satuan luas yangdigunakan oleh oran-orang Mesopotamia
[5] Sejenis batuan vulkanis